Kamis, 13 Agustus 2026

Berawal Iseng di Media Sosial, Pemuda Pangandaran Ini Ekspor Tanaman Hias hingga Negeri Sakura

Photo Author
Iwan Mulyadi, InvestasiPost.com
- Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:00 WIB
Yahya Saeful Uyun yang sedang menerima kunjungan wisatawan Jepang ke toko tanaman hiasnya.  (Istimewa )
Yahya Saeful Uyun yang sedang menerima kunjungan wisatawan Jepang ke toko tanaman hiasnya. (Istimewa )

DAILYPANGANDARAN - Bagi kebanyakan orang, mengoleksi dan merawat tanaman hias mungkin hanyalah sebatas hobian untuk mempercantik pekarangan atau menyalurkan kecintaan pada alam. Namun, di tangan Yahya Saeful Uyun, seorang pemuda asal Kabupaten Pangandaran, kegemaran hijau tersebut berlanjut menjadi peluang bisnis internasional yang sangat menjanjikan.

Berawal dari sudut pekarangan rumah di Desa Masawah, Kecamatan Cimerak, Yahya merintis green house bernama RI-YA GreenHouse. Siapa sangka, berawal dari keisengannya mengunggah foto-foto koleksi tanaman hias lokal seperti Kadaka dan Huperzia ke media sosial tiga tahun lalu, usahanya kini menarik perhatian dunia internasional.

Perhatian itu datang langsung dari Jepang. Flore 21, sebuah perusahaan tanaman ternama asal Negeri Sakura, kepikat oleh ketelatenan Yahya dalam merawat dan mengelola tanaman hiasnya.

Ketertarikan tersebut dibuktikan dengan kunjungan resmi perwakilan Flore 21 ke green house milik Yahya di Cimerak pada 16 hingga 18 Mei 2026 lalu. Kunjungan itu bermuara pada penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) kerja sama pengelolaan dan pasokan tanaman.

"Awalnya mereka penasaran dengan proses pengelolaan tanaman di sini, karena sebelumnya hanya menerima kiriman dari saya. Ternyata mereka ingin melihat langsung pembudidayaannya," cerita Yahya, belum lama ini.

Selain Kadaka dan Huperzia yang menjadi primadona utama, keberagaman flora lokal lainnya—seperti lidah buaya, aglonema, lidah mertua, hingga anggrek bulan—turut menyedot perhatian para pengusaha asal Jepang tersebut. Bahkan, Flore 21 secara khusus telah mengajukan permintaan untuk pengiriman dua jenis tanaman lain, yakni Hoya dan Rhipsalis, yang siap diekspor dalam waktu dekat.

Yahya mengaku sempat kaget dengan perkembangan bisnisnya ini. Semula, ia tak pernah mematok target besar untuk menggarap green house secara komersial.

"Dulu tidak ada niat untuk serius berbisnis. Tapi karena kepercayaan pemesan terus tumbuh dan ada nilai ekonomisnya, sekarang Alhamdulillah saya kelola secara profesional. Dari green house ini sudah lahir beragam jenis tanaman hias," ungkap Yahya.

Tak hanya menembus pasar ekspor, pesanan tanaman hias dari RI-YA GreenHouse kini juga mengalir deras dari pasar lokal maupun regional, khususnya untuk memenuhi kebutuhan lanskap perumahan hingga area perhotelan.

Menariknya, keberhasilan Yahya tak berhenti pada keuntungan finansial semata. Usaha florikultura ini turut membawa dampak sosial positif bagi lingkungan sekitarnya. Saat ini, RI-YA GreenHouse mampu menyerap 5 hingga 10 tenaga kerja dari warga lokal Desa Masawah.

"Ini bentuk rasa syukur kami. Usaha ini tidak hanya menghidupi kami, tetapi juga bisa membantu membuka lapangan kerja bagi tetangga dan masyarakat sekitar," kata Yahya penuh haru.

Bagi Yahya, budidaya tanaman hias memiliki nilai ganda: meningkatkan perekonomian sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dengan menciptakan ruang yang sejuk dan asri. Ia berharap jejak langkahnya ini dapat memantik semangat para pembudidaya lain serta anak-anak muda di Pangandaran untuk berani berkarya.

"Potensi alam di Pangandaran ini sangat luar biasa. Kalau anak-anak mudanya kreatif mengolah potensi sekitar menjadi produk bernilai jual, kita tidak hanya bisa mandiri secara ekonomi, tapi juga bisa membuka peluang dan memberi manfaat bagi orang banyak," tutupnya.

Editor: Aldi Nur Fadillah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

Terpopuler

X