Kamis, 13 Agustus 2026

Mengenal Batik Marlin Khas Pangandaran yang Diminati Eropa

Photo Author
Admin Editor, InvestasiPost.com
- Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:20 WIB
Supriati pengrajin batik khas Pangandaran. Produknya laku pasar Eropa.
Supriati pengrajin batik khas Pangandaran. Produknya laku pasar Eropa.

INVESTASIPOST - Batik merupakan salah satu wastra khas Indonesia yang telah diakui secara global. UNESCO secara resmi menetapkan batik Indonesia sebagai warisan budaya takbenda pada 2 Oktober 2009.

Momentum tersebut mengukuhkan posisi Indonesia di mata dunia sebagai negara yang kaya akan keberagaman dan nilai-nilai luhur. Keberadaan batik juga memperkuat identitas bangsa di kancah internasional.

Wastra bermotif ini tidak hanya lahir dari tanah Jawa, tetapi juga tumbuh di berbagai pelosok Nusantara. Dari Sabang hingga Merauke, setiap daerah memiliki motif batik dengan karakteristik dan keunikan tersendiri.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI mencatat sedikitnya terdapat 5.849 motif batik di Indonesia. Data tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Bandung Fe Institute dan Sobat Budaya pada tahun 2015.

Dari ribuan motif yang ada, terdapat 10 motif batik yang paling populer di Indonesia, di antaranya Batik Mega Mendung (Cirebon), Batik Parang (Yogyakarta), Batik Kawung (Jawa Tengah), Batik Tujuh Rupa (Pekalongan), Batik Sogan (Solo), Batik Gentongan (Madura), Batik Keraton (Yogyakarta), Batik Simbut (Banten), Batik Pring Sedapur (Magetan), dan Batik Geblek Renteng (Kulon Progo).

Industri batik saat ini tidak hanya mengandalkan pasar domestik. Sejumlah negara di kawasan Asia hingga Eropa tercatat menjadi konsumen rutin batik asal Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari Kementerian UMKM Republik Indonesia, ekspor batik Indonesia melonjak sebesar 76,2 persen pada triwulan I tahun 2025. Nilai ekspor tersebut diperkirakan mencapai US$ 7,63 juta, meningkat dari periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar US$ 4,33 juta.

Sejumlah negara yang menjadi tujuan utama ekspor batik di antaranya adalah Amerika Serikat dan Jerman. Selain pasar Eropa dan Amerika, batik juga sangat diminati di pasar Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, hingga Vietnam.

Meninjau data tahun 2022, Amerika Serikat menjadi negara importir terbesar batik Indonesia dengan nilai ekspor mencapai US$ 18,79 juta, atau naik 2,88 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi volume, ekspor batik Indonesia ke Amerika Serikat mencapai 638,5 ribu kilogram pada tahun 2022. Negara berikutnya yang menggemari batik Indonesia adalah Malaysia dengan nilai ekspor sebesar US$ 673,24 ribu dengan volume 36,12 kilogram.

Selain motif-motif klasik, batik asal Jawa Barat juga mampu bersaing di pasar global. Salah satunya adalah batik yang diproduksi di Kabupaten Pangandaran.

Meskipun Kabupaten Pangandaran berstatus sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB), karya batik tulis dari pesisir selatan ini telah menembus pasar ekspor. Produk ini bahkan menjadi pelopor motif khas biota laut pertama di Indonesia.

Berawal dari dapur kecil yang sederhana, Supriati (34), pemilik Batik Mekar Sejahtera asal Desa Sidomulyo, Kecamatan Pangandaran, telah menciptakan ratusan motif batik bernuansa biota laut. Karya tangan Supriati kini diakui sebagai salah satu pemasok kain batik untuk pasar internasional.

Halaman:

Editor: Aldi Nur Fadillah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

Terpopuler

X