umkm

Mengenal Batik Marlin Khas Pangandaran yang Diminati Eropa

Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:20 WIB
Supriati pengrajin batik khas Pangandaran. Produknya laku pasar Eropa.

Untuk harga, kain batik miliknya dibanderol cukup variatif, mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu untuk jenis batik cap. Sementara itu, batik tulis dengan tingkat kerumitan tinggi dijual dengan harga mencapai Rp 2,5 juta untuk kualitas kain terbaik.

Pemasaran Produk

Supriati menyebutkan bahwa penjualan batik miliknya masih didominasi oleh pasar lokal dan wisatawan yang berkunjung ke objek wisata Pantai Pangandaran.

"Untuk penjualan banyaknya masih di Pangandaran, untuk keluar kota masih terhitung, ekspor ke luar negeri juga ada," ucapnya.

Banyak konsumen yang datang langsung ke galeri, terutama rombongan wisatawan yang sekaligus ingin mengikuti kegiatan lokakarya. "Kami juga menyediakan workshop tutorial pembuatan kain batik motif tulis," katanya.

Ekspor perdana batik karya Supriati dilakukan pada tahun 2020, setahun setelah ia mulai berkarya.

"Ekspor kirim pertama itu tahun 2020 bekerjasama dengan pengusaha batik Cap di Cilacap. Pengirimannya sebulan 80 lembar ke Abudabi, Arab Saudi," ucapnya. Saat itu, harga per lembar kain diperkirakan sekitar Rp 650 ribu.

Setahun kemudian, Supriati kembali mendapatkan pesanan dari wisatawan asal Belanda dan Swiss. "Cuman itu mah dari tamu yang kesini dari Belanda dan Swis. Kalo bule Swiss dia tahu kita dari Google mau engagement bener-bener dipakai tunangan oleh mereka," katanya.

Untuk meningkatkan volume penjualan, ia juga memasarkan produknya secara daring melalui media sosial dan lokapasar (marketplace).

Ia menambahkan bahwa harga yang diberikan kepada pembeli tidak selalu kaku, karena nilai seni sering kali diapresiasi lebih oleh para kolektor. "Perbedaan harga penjualan lokal dan mancanegara tidak ada bedanya. Batik itu punya patokan harga, cuman untuk harga itu kembali lagi ke siapa yang datang. Orang ngerti seni dan tahu karya dijual dengan harga mahal malah ditawar lebih mahal lagi. Pernah saya menawarkannya Rp 450 ribu kepada wisatawan karena ngerti seni dia malah nawar mahal Rp 1 juta," ungkapnya.

Perjalanan Merintis Usaha

Supriati tidak pernah membayangkan usahanya akan berkembang pesat hingga memiliki galeri yang representatif, mengingat ia memulainya dari dapur yang sempit.

"Waktu itu tahun 2019 setelah merintis alhamdulillah dapat bantuan keuangan dari BRI sebagai binaan UMKM senilai Rp 45 juta," ucapnya.

Dana tersebut digunakannya untuk membangun galeri di depan rumah. "Tapi alhamdulillah perlengkapan dan semua yang berkaitan dengan batik bisa terpenuhi berkat bantuan modal bisnis," katanya.

Ia merasa sangat terbantu dengan modal awal tersebut dalam mengembangkan usahanya hingga dikenal luas seperti sekarang. "Kalo sekarang alhamdulillah sudah makin banyak dikenal orang," ujarnya.

Ia mengenang masa-masa awal saat masih menggunakan terpal biru yang sering kali menyulitkan ketika hujan turun. "Repot banget dulu kalo hujan," katanya.

Pada awal merintis, Supriati mengaku sempat kesulitan menemukan pasar karena lokasi galerinya berada di dalam perkampungan. "Tapi waktu itu berusaha mengenalkan ke pemandu wisata, melalui pameran dan alhamdulillah meskipun didalam banyak yang kejar," ungkapnya.

Halaman:

Tags

Terkini