Minggu, 16 Agustus 2026

Menelisik Mitos Tuyul: Mengapa Makhluk Halus Ini Tak Pernah Membobol Bank?

Photo Author
Iwan Mulyadi, InvestasiPost.com
- Minggu, 16 Agustus 2026 | 09:04 WIB
Ilustrasi tuyul. (Doc.Freepik)
Ilustrasi tuyul. (Doc.Freepik)

INVESTASI POST - Pertanyaan mengapa tuyul tidak pernah mencuri uang di brankas bank atau menyedot saldo uang elektronik kerap memicu perdebatan jenaka di ruang publik. Narasi populer di internet kerap mengaitkannya dengan hal-hal mistis, mulai dari anggapan tuyul takut brankas besi hingga klaim adanya "penjaga gaib" yang melindungi kantor perbankan. Namun, catatan sejarah dan kajian sosiologi membeberkan realitas yang jauh lebih rasional: mitos tuyul adalah produk kecemburuan sosial masa kolonial.

​Budayawan Suwardi Endraswara dalam Dunia Hantu Orang Jawa (2004) mencatat bahwa tuyul dikonstruksikan sebagai makhluk piaraan yang mencuri uang, barang, hingga surat berharga dari rumah ke rumah. Ketiadaan kasus bank kehilangan uang akibat makhluk halus ini bukan karena faktor mistis, melainkan karena mitos tersebut lahir dari dinamika masyarakat agraris abad ke-19.

Akar Ketimpangan Ekonomi Abad ke-19

​Kelahiran mitos pesugihan tuyul bertaut erat dengan peresmian kebijakan pintu terbuka (liberalisasi ekonomi) oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1870. Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012) menjelaskan bahwa kebijakan tersebut melahirkan rezim perkebunan skala besar yang menggusur lahan-lahan rakyat.

​Dampaknya terasa timpang di kalangan masyarakat:

  • Petani Kecil: Terpuruk dalam kemiskinan ekstrem akibat hilangnya akses terhadap tanah pertanian.
  • Kelompok Pedagang: Sejumlah pedagang pribumi dan Tionghoa justru meraup lonjakan keuntungan instan dari rantai pasok ekonomi baru.

Konflik Budaya Subsisten dan Tuduhan Mistis

​Sejarawan Ong Hok Ham dalam Wahyu yang Hilang Negeri Yang Guncang (2019) menguraikan bahwa para petani kala itu menganut pola hidup subsisten—bertani semata-mata untuk kebutuhan konsumsi mandiri. Bagi masyarakat agraris tradisional, akumulasi kekayaan harus melalui proses fisik yang tampak jelas dan terbuka.

​Ketika melihat para pedagang menjadi orang kaya baru tanpa kerja fisik yang kasat mata, timbul rasa curiga dan kecemburuan sosial. George Quinn dalam An Excursion to Java's Get Rich Quick Tree (2009) menyebut para petani menuntut pertanggungjawaban atas asal-usul kekayaan tersebut. Saat pedagang tidak mampu menjelaskan mekanisme pasar modern yang abstrak, masyarakat menuduh kekayaan itu diperoleh lewat pencurian gaib.

​Ong Hok Ham dalam Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong (2002) menambahkan, tuduhan memelihara tuyul sengaja dilekatkan untuk mendiskreditkan status sosial orang kaya baru. Akibat stigmatisasi ini, kaum pedagang sempat enggan membeli aset fisik seperti tanah atau rumah mewah karena takut dituduh bersekutu dengan setan.

​Mitos tuyul pada akhirnya lestari sebagai mekanisme defensif psikologis masyarakat agraris dalam merespons ketimpangan kapitalistik, bukan entitas pembobol institusi keuangan modern.

Editor: Iwan Mulyadi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Tips Mengelola Keuangan dan Aset Berdasarkan Usia

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 18:30 WIB

Jadwal Solat Hari Ini Pangandaran dan Sekitarnya

Sabtu, 15 Agustus 2026 | 07:10 WIB

Apa itu Investasi, Keamanan dan Risiko

Kamis, 13 Agustus 2026 | 11:35 WIB
X