INVESTASIPOST – Bank Indonesia (BI) mempercepat langkah penguatan infrastruktur transaksi bilateral dengan menargetkan operasional bank kliring renminbi (RMB) paling lambat pada kuartal IV-2026. Langkah strategis ini dipicu oleh lonjakan likuiditas dan permintaan transaksi mata uang Yuan di pasar domestik yang melesat tajam sepanjang tahun berjalan.
Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono mengungkapkan bahwa bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) telah menetapkan Bank of China sebagai bank kliring perdana. Bersamaan dengan itu, BI tengah memproses bank nasional dari kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sebagai bank kliring kedua.
"PBoC sudah memastikan kliring bank yang pertama adalah Bank of China, tapi kami di Bank Indonesia mendorong bank nasional dalam hal ini Himbara. Saat ini sedang proses administrasi, jadi nanti akan ada dua Kliring Bank Renminbi di Indonesia," ujar Thomas dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: IHSG Melesat 1,25% Tembus 6.474, Cek Deretan Saham yang Jadi Buruan Investor Hari Ini
Pondasi Regulasi dan Efisiensi Valas
Pembentukan fasilitas kliring ini berlandaskan Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) Nomor 24 Tahun 2026 tentang pemberian rekomendasi bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD) yang dirilis 14 Agustus 2026.
Kehadiran dua bank kliring tersebut ditujukan untuk mengamankan ketersediaan likuiditas RMB domestik secara langsung, menekan biaya konversi valas, serta memacu efisiensi penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi antara pelaku usaha Indonesia dan China tanpa ketergantungan pada mata uang pihak ketiga.
Transaksi RMB Melonjak Mendekati Target Tahunan
Urgensi pembentukan bank kliring kian mendesak seiring realisasi transaksi RMB yang nyaris melampaui proyeksi tahunan bank sentral. Data BI mencatat:
- Realisasi Transaksi (Juli 2026): Mencapai setara US$38,9 miliar.
- Proyeksi Internal BI (Full Year 2026): Sebesar US$40 miliar.
"Data aktual per Juli, demand renminbi di pasar domestik sudah mencapai US38,9 miliar. Ini sudah hampir 100% dari proyeksi tahunan kami yang sebesar US40 miliar, padahal kita masih memiliki sisa lima bulan," jelas Thomas.
Baca Juga: Presiden Prabowo Subianto Undang Petugas HUT Kemerdekaan RI Ke-81 ke Hambalang
Dengan akselerasi integrasi sistem pembayaran dan kliring bilateral ini, BI optimistis ekosistem penggunaan mata uang lokal (local currency transactions) akan semakin solid dalam menopang stabilitas nilai tukar serta arus pembiayaan investasi riil Indonesia–China hingga akhir tahun.
Artikel Terkait
Hore BI Gratiskan MDR QRIS, Ternyata Transaksinya Capai 1 Kuadriliun
BI Terbitkan Kartu Kredit Indonesia, Ini Fungsinya
BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,75% untuk Jaga Stabilitas Rupiah dan Inflasi