INVESTASIPOST - Di balik riuhnya suasana kantin sekolah, Iis Sunisih (35) pernah menghabiskan hari-harinya sebagai penjaga warung kecil demi menyambung hidup. Namun, siapa sangka, perempuan asal Desa Sidamulih, Kabupaten Pangandaran ini kini bermetamorfosis menjadi pengusaha kopi robusta jempolan dengan omzet yang mencapai puluhan juta rupiah.
Perjalanan Iis tidaklah instan. Sebelum namanya dikenal di industri kopi, ia adalah seorang buruh serabutan yang juga mengelola kantin sekolah untuk menambah penghasilan. Di tengah rutinitasnya, asa untuk menjadi pengusaha tak pernah padam. Peluang itu justru datang dari halaman rumah, saat sang suami iseng menanam dan merawat pohon kopi.
"Ya dulu awalnya hanya untuk dinikmati sendiri, tapi pas dijual ada yang mau," kenang Iis saat menceritakan awal mula persentuhannya dengan dunia kopi.
Keberhasilan kecil itu memicu keberanian yang lebih besar. Pada tahun 2019, Iis mengambil keputusan besar untuk banting setir. Ia meninggalkan kenyamanan di kantin sekolah dan memilih fokus menggarap bisnis kopi secara serius.
"Saya memberanikan diri membeli kebun kopi seluas setengah hektar," tuturnya. Modal tersebut ia kumpulkan sedikit demi sedikit dari hasil menabung selama menjadi pekerja serabutan dan menjaga kantin. Namun, menanam kopi ternyata jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. "Selain itu, untuk proses tanam memerlukan waktu dan perawatan yang tak mudah dan tentu perlu biaya," tambah Iis.
Ujian pertama datang saat ia mulai memasarkan produknya. Alih-alih disambut hangat, Iis justru kenyang menerima penolakan. Banyak pemilik kedai kopi di Pangandaran yang memandang sebelah mata produknya karena dianggap tidak praktis.
"Dulu saat saya menawarkan kopi ke kedai yang di Pangandaran banyak yang menolak, disebut ribet dan banyak yang sebut mirip kopi sachet," katanya.
Meski sempat bingung karena modal tabungannya sudah tertanam seluruhnya di bisnis ini, Iis menolak menyerah. Ia mulai belajar lebih dalam tentang teknik meracik dan mempelajari karakteristik kopi robusta agar bisa menghasilkan rasa yang diminati pasar. "Sejak saat itu terus belajar meracik dan mempelajari kopi robusta yang menghasilkan kopi yang enak dan diminati," ujarnya.
Strategi pun berubah. Iis mulai menawarkan roasted bean atau biji kopi sangrai. "Waktu itu permintaan mulai ada untuk kopi roaster," ucapnya. Namun, badai kembali datang saat pandemi COVID-19 menghantam. Omzetnya merosot tajam hingga ia hampir putus asa.
"Hampir putus asa, tapi saya dan tim tetap bertahan, saya tidak hanya berjualan kopi robusta saja," ungkap Iis. Ia memutar otak dan meluncurkan terobosan berupa kopi arabika house blend dan arabika espresso. Inovasi inilah yang kemudian membuat namanya naik daun di kalangan kedai kopi lokal.
Memasuki tahun 2021, Iis melahirkan produk unggulan yang menjadi ikon usahanya: Robusta Wine khas Pangandaran. Kopi ini diproses secara natural wine, di mana biji kopi pilihan mengalami proses fermentasi selama 10 hari sebelum dijemur selama satu bulan penuh.
"Setelah dipetik dari pohon prosesnya dilakukan secara alami, kemudian dicuci bersih," jelas Iis. Proses panjang inilah yang melahirkan sensasi rasa unik. Meski berwarna hitam pekat layaknya kopi biasa, ada jejak rasa anggur yang tertinggal di lidah dalam setiap tegukannya.
Kini, usaha yang ia beri nama Silalabak itu telah mematenkan posisinya di pasar. Produknya telah memasok kebutuhan 17 kedai kopi di Pangandaran dan merambah kota-kota besar seperti Jogja, Bandung, Depok, hingga Jakarta. Dalam sekali panen, Iis mampu memproses hingga 1 kuintal biji kopi.
"Dari usaha biji kopi dalam sebulan omzetnya mencapai 20 Juta per bulan. Karena saya juga jual ke luar daerah, Jogja, Bandung, Depok, dan Jakarta," ujarnya bangga.
Prestasi Iis tak berhenti di pasar domestik. Pada tahun 2022, kualitas kopi Silalabak menarik perhatian pecinta kopi mancanegara. Wisatawan dan pengusaha kopi dari Austria serta Singapura datang langsung ke Pangandaran untuk mencicipi racikannya.