ekonomi-bisnis

Melesat 38 Persen, Simpanan Valas Perbankan Gerus Pertumbuhan Deposito Rupiah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 20:39 WIB
Simpanan dalam valuta asing (valas) tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan rupiah.

INVESTASIPOST — Tren penempatan dana di sektor perbankan domestik mengalami pergeseran signifikan. Data Bank Indonesia (BI) mengenai Perkembangan Uang Beredar (M2) per Juli 2026 mencatat simpanan berjangka valuta asing (valas) melonjak hingga 38% secara tahunan (year-on-year/yoy), jauh melampaui pertumbuhan simpanan berjangka rupiah yang nyaris mandek di angka 0,4%.

​Kesenjangan tajam ini memicu fenomena peralihan likuiditas, di mana masyarakat dan korporasi cenderung mengamankan nilai aset mereka ke dalam mata uang asing di tengah fluktuasi kurs. Kondisi tersebut berbalik total dibanding pertengahan 2025, saat deposito valas sempat terkontraksi dan simpanan rupiah masih tumbuh di atas 5%.

Baca Juga: Prabowo Ajukan Destry Damayanti Jadi Calon Tunggal Gubernur Bank Indonesia

Penambahan Dana Valas Tembus Rp180 Triliun

​Secara nominal, pergeseran dana pihak ketiga (DPK) ini mencatatkan lonjakan yang sangat kontras antarjenis instrumen simpanan:

  • Deposito Valas: Melesat 38,0% (yoy) dari Rp340,1 triliun menjadi Rp469,4 triliun, atau bertambah Rp129,3 triliun.
  • Tabungan Valas: Tumbuh 26,5% (yoy) dari Rp191,4 triliun menjadi Rp242,2 triliun, atau naik Rp50,8 triliun.
  • Deposito Rupiah: Hanya tumbuh tipis 0,4% (yoy) dari Rp2.755,4 triliun menjadi Rp2.767,5 triliun, dengan penambahan sebesar Rp12,1 triliun.
  • Tabungan Rupiah: Mengalami penurunan tipis 0,1% (yoy) dari Rp103,4 triliun menjadi Rp103,3 triliun, atau tergerus Rp100 miliar.

​Jika diakumulasikan, total simpanan berjangka dan tabungan valas berhasil menyerap tambahan dana segar sebesar Rp180,1 triliun hanya dalam kurun waktu satu tahun. Sebaliknya, akumulasi dua instrumen simpanan berbasis rupiah tersebut hanya mampu bertambah Rp12 triliun.

Lindung Nilai Imbas Depresiasi Nilai Tukar

​Peningkatan drastis pada penempatan valas berbanding lurus dengan tekanan yang dialami mata uang Garuda. Pada akhir Juli 2025, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp16.450/US$, namun melemah hingga menyentuh level Rp17.994/US$ pada akhir Juli 2026.

​Meskipun depresiasi rupiah sebesar 9,4% turut mendongkrak pencatatan konversi valas ke dalam nominal rupiah, tingkat pertumbuhan simpanan valas yang mencapai 38% mengindikasikan adanya aliran dana baru yang sengaja masuk ke instrumen mata uang asing.

​Selain sebagai strategi hedging (lindung nilai) bagi nasabah perorangan, korporasi juga terdorong memperkuat cadangan valas untuk mengamankan kebutuhan pembiayaan impor serta kewajiban utang luar negeri.

​Aksi borong valas ini tetap terjadi meski perbankan telah mendongkrak imbal hasil deposito rupiah. Per Juli 2026, suku bunga simpanan berjangka rupiah tercatat berada di kisaran 5,03% untuk tenor 1 bulan hingga 5,75% untuk tenor 12 bulan, tetapi selisih imbal hasil tersebut belum cukup kuat menahan laju migrasi dana ke mata uang asing.

Tags

Terkini

Ngeri Dampak Kebakaran di Pasar Sungai Kalimantan

Jumat, 21 Agustus 2026 | 12:33 WIB