INVESTASI POST – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini potensi kekeringan meteorologis pada Dasarian II Agustus 2026 (11–20 Agustus). Sejumlah kabupaten dan kota di delapan provinsi, termasuk Jawa Barat, resmi masuk dalam kategori tingkat keparahan tertinggi: Awas.
Status ancaman ini tak lepas dari kondisi iklim global yang kian mengering. BMKG mencatat anomali suhu muka laut di kawasan Pasifik Tengah (Nino 3.4) mencapai indeks +2,77—mengindikasikan fenomena El Niño berada pada fase sangat kuat—serta didukung indeks Indian Ocean Dipole (IOD) positif sebesar +0,457.
"Untuk periode Dasarian Agustus II, sejumlah wilayah di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) diprediksi mengalami kekeringan meteorologis kategori Awas," tulis BMKG dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu, 15 Agustus 2026.
Sorotan Jawa Barat: Masuk Garis Rawan Krisis Air
Bagi Jawa Barat, masuknya sejumlah kabupaten/kota dalam daftar kategori Awas dan Siaga menjadi alarm serius bagi ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih. Memasuki pertengahan Agustus, wilayah tatar Pasundan ini berada tepat di episentrum puncak musim kemarau Pulau Jawa.
Secara nasional, BMKG membagi peta risiko kekeringan menjadi tiga level:
- Kategori Awas: Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.
- Kategori Siaga: Mencakup sebagian wilayah Jawa Barat bersama kabupaten/kota di Sumatra bagian selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku Utara.
- Kategori Waspada: Melingkupi sebagian Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Riau, hingga Papua bagian selatan.
Puncak Kemarau dan Minimnya Pasokan Hujan
Data BMKG memaparkan bahwa 76,5 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia (setara 535 ZOM) telah resmi masuk musim kemarau. Sebanyak 48,84 persen daratan Tanah Air mencapai puncak musim kering sepanjang Agustus ini.
Kondisi tersebut tecermin dari minimnya curah hujan pada Dasarian I Agustus 2026:
- 90,79 persen wilayah Indonesia masuk dalam kriteria curah hujan rendah.
- 87,28 persen wilayah mengalami sifat hujan jauh di bawah kondisi normal.
- Curah hujan kriteria tinggi tercatat hanya 0,93 persen.
BMKG menegaskan bahwa hingga Dasarian II Agustus 2026, nihil terdeteksi adanya potensi curah hujan tinggi di Jawa Barat maupun wilayah Jawa pada umumnya. Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau mengantisipasi dampak lanjutan kekeringan, mulai dari krisis air baku, potensi kebakaran lahan, hingga ancaman puso pada lahan pertanian.
Artikel Terkait
Atasi Krisis Air Bersih, BPBD Pangandaran Salurkan Bantuan ke Wilayah Terdampak Kekeringan
BREAKING NEWS: Gempa M 7,7 Guncang Laut Maumere NTT, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami