INVESTASIPOST - Bagi pemodal yang menginginkan diversifikasi portofolio tanpa repot memilih instrumen satu per satu, reksa dana kerap menjadi opsi utama.
Seiring inovasi di pasar modal Indonesia, kini hadir Exchange Traded Fund (ETF) reksa dana berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang unit penyertaannya diperdagangkan langsung di Bursa Efek Indonesia (BEI) layaknya saham biasa.
Secara konsep, ETF mengadopsi prinsip reksa dana indeks yang kinerjanya mengikuti indeks acuan tertentu.
Baca Juga: 5 Pilihan Investasi Aman untuk Pemula yang Punya Duit Rp 1 Juta
Bedanya, jika reksa dana konvensional ditransaksikan melalui manajer investasi atau agen penjual, ETF diperjualbelikan lewat perusahaan sekuritas di bursa efek sepanjang jam perdagangan.
Keunggulan dan Karakteristik ETF ETF menawarkan sejumlah manfaat menarik:
- Transparansi Portofolio: Komposisi aset dan pergerakan nilai indikatif (iNAV) dapat dipantau secara real-time.
- Likuiditas Tinggi: Keberadaan Dealer Participant berfungsi sebagai penyedia likuiditas (market maker).
- Fleksibilitas dan Efisiensi: Investor ritel dapat memulai transaksi mulai dari 1 lot (100 unit) dengan komisi broker yang relatif terjangkau (0,15%–0,35%).
- Penyelesaian Cepat: Proses penyelesaian transaksi mengikuti mekanisme pasar reguler, yakni T+2 (dua hari bursa), jauh lebih ringkas dibanding reksa dana konvensional yang memakan waktu hingga T+7.
Baca Juga: OJK Ungkap Pemahaman Finansial Gen Z dan Milenial Rendah
Perbedaan Kunci dengan Reksa Dana Konvensional
Perbedaan mendasar terletak pada pembentukan harga dan cara transaksi. Reksa dana konvensional menggunakan Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang baru dihitung satu kali setelah pasar tutup.
Sebaliknya, harga ETF bergerak dinamis mengikuti hukum permintaan dan penawaran selama jam perdagangan aktif.
Hal ini memberi fleksibilitas bagi investor untuk menentukan momentum masuk dan keluar pasar secara presisi.
Mitigasi Risiko Investasi
Kendati praktis, ETF tetap memiliki risiko yang harus dicermati. Fluktuasi harga pasar, kinerja emiten dalam keranjang indeks, hingga risiko likuiditas jika pasar sekunder sedang sepi tetap menjadi faktor penentu imbal hasil.
Selain itu, perhitungan keuntungan bersih wajib memperhitungkan biaya beli dan jual pada sekuritas.
Baik reksa dana konvensional maupun ETF menawarkan kemudahan pengelolaan dana oleh profesional.
Baca Juga: Tips Mengelola Keuangan dan Aset Berdasarkan Usia