INVESTASIPOST — Ancaman bencana hidrometeorologi kering kian meningkat di berbagai wilayah Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat akumulasi kejadian bencana telah menembus angka 1.532 kejadian hingga Jumat (21/8/2026). Dari total tersebut, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendominasi dengan 454 kejadian, disusul 87 bencana kekeringan.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa penanganan karhutla di Pulau Kalimantan kini menjadi prioritas mutlak pemerintah pusat melalui penguatan satgas darat dan operasi armada udara di enam provinsi rawan.
Sebaran Titik Api Masif di Kalimantan Timur
Kondisi kritis dilaporkan melanda wilayah Kalimantan Timur. Di Kabupaten Kutai Kartanegara, karhutla menghanguskan sedikitnya 49,55 hektare lahan di enam titik kecamatan pada Rabu (19/8/2026). Area terluas berada di Kelurahan Pendingin yang mencapai 42 hektare, di mana pantauan visual pesawat nirawak (drone) masih mendeteksi keberadaan 6 hingga 7 titik api aktif.
Baca Juga: Ngeri Dampak Kebakaran di Pasar Sungai Kalimantan
Kebakaran lahan turut melanda Kabupaten Paser seluas 25,29 hektare di area taman konservasi bervegetasi semak belukar dan gambut, meliputi Kecamatan Tanah Grogot, Batu Sopang, dan Batu Engau. Tim gabungan BPBD Paser berhasil memadamkan titik api darat pada Kamis (20/8/2026).
Di luar Kalimantan, karhutla dilaporkan terjadi di Belitung Timur seluas 3,8 hektare, serta sejumlah wilayah di Jawa Timur mencakup Bondowoso (20 ha), Magetan (8 ha), dan Blitar (3 ha). Pemerintah Provinsi Jawa Timur sendiri telah menerbitkan status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla selama 180 hari hingga 6 Oktober 2026.
Baca Juga: Karhutla Kalimantan Berdampak ke Malaysia, Ratusan Sekolah Tutup
Pengerahan Helikopter dan Operasi Modifikasi Cuaca
Guna memitigasi eskalasi kebakaran, BNPB memobilisasi armada udara secara terkoordinasi di enam provinsi prioritas:
- Sumatra Selatan: 1 unit helikopter patroli, 1 unit Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dan 7 unit water bombing.
- Kalimantan Barat: 2 unit helikopter patroli, 1 unit OMC, dan 5 unit water bombing.
- Riau: 1 unit helikopter patroli, 1 unit OMC, dan 5 unit water bombing.
- Kalimantan Tengah: 1 unit helikopter patroli, 1 unit OMC, dan 4 unit water bombing.
- Kalimantan Selatan: 1 unit helikopter patroli, 1 unit OMC, dan 3 unit water bombing.
- Jambi: 1 unit helikopter patroli, 1 unit OMC, dan 2 unit water bombing.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengungkapkan bahwa operasi penyemaian awan buatan akan digencarkan kembali di langit Kalimantan mulai Sabtu (22/8/2026) untuk Kalimantan Timur, disusul Kalimantan Barat pada Minggu (23/8/2026).
Peringatan Kemenhut dan Jarak Pandang Bandara
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) mencatat anomali panas (hotspot high confidence) bergerak dinamis berdasarkan pantauan Satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua. Meskipun demikian, pantauan per 20 Agustus 2026 menunjukkan tren perbaikan jarak pandang di sejumlah bandara operasional:
- Bandara Supadio (Pontianak): Sekitar 4 kilometer (kondisi berasap).
- Bandara Tjilik Riwut (Palangka Raya): Sekitar 6 kilometer.
- Wilayah Banjarbaru: Lebih dari 10 kilometer.
Kemenhut mengimbau warga tetap menggunakan masker dan waspada saat beraktivitas di luar ruangan. Pemerintah bersama aparat penegak hukum menegaskan sanksi tegas tanpa toleransi bagi individu maupun entitas korporasi yang terbukti membuka lahan dengan metode membakar.
Artikel Terkait
Sejak Awal Bulan, Sudah Ada 9 Kejadian Kebakaran di Pangandaran
Ngeri Dampak Kebakaran di Pasar Sungai Kalimantan
Karhutla Kalimantan Berdampak ke Malaysia, Ratusan Sekolah Tutup